SELAMA puluhan tahun, sarung, peci, langgar, pesantren, dan berbagai tradisi keagamaan menjadi identitas Nahdlatul Ulama (NU) yang paling mudah dikenali. Simbol-simbol tersebut tentu memiliki nilai historis dan kultural yang sangat penting.
Namun, ketika identitas itu menjadi hal dominan dalam cara masyarakat melihat NU, muncul persoalan yang perlu direnungkan.
NU berisiko dipahami hanya sebagai representasi tradisi, bukan sebagai kekuatan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam konteks politik, NU sesungguhnya telah lama menempati posisi yang relatif moderat.
Secara ideologis, NU berada