ADA kecenderungan banyak pihak yang menggambarkan Generasi Z (Gen-Z) melalui secara stereotip.
Misalnya mereka dianggap malas bekerja, tidak tahan tekanan, terlalu digital, mudah cemas, konsumtif, individualis, atau sebaliknya progresif, sadar lingkungan, dan melek teknologi.
Stereotip semacam ini tentu sangat lemah secara sosiologis. Karena Gen-Z harus ditempatkan pada persoalan level kepribadian generasi, bukan pada level struktur yang membentuknya.
Bahkan, kalau kita membaca data yang lebih mutakhir, justru menunjukkan gambaran yang jauh lebih paradoksal.
Survei Jakpat terhadap 1.158 Gen-Z Indonesia usia 17–28