“SAYA masuk Desil 10. Tapi saya tidak merasa kaya.” Kalimat semacam ini belakangan mudah ditemukan dalam perbincangan masyarakat mengenai Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Bagi sebagian orang, angka desil terasa membingungkan. Bagaimana mungkin seseorang yang merasa kondisi ekonominya biasa saja, bahkan pas-pasan, justru ditempatkan pada kelompok kesejahteraan tertinggi?
Kebingungan itu sebenarnya memberi kita kesempatan untuk membicarakan sesuatu yang lebih mendasar: apa sebenarnya yang dimaksud dengan desil?
Kekhawatiran masyarakat tentu dapat dipahami. Istilah desil tidak lagi sekadar istilah statistik.