ADA saat ketika demokrasi tidak lagi sepenuhnya berbicara dari ruang sidang. Ia berpindah ke trotoar, halaman kampus, persimpangan kota, dan jalan-jalan yang dipenuhi poster.
Ketika mikrofon di gedung perwakilan terasa terlalu jauh dari suara warga, pengeras suara di atas mobil komando mengambil alih percakapan. Jalan raya pun berubah menjadi ruang politik.
Kita menyebutnya demonstrasi. Namun, dalam kehidupan demokrasi, jalanan sering memainkan peran yang lebih besar daripada sekadar tempat menyampaikan protes.
Ia menjadi semacam parlemen jalanan: ruang tempat warga mengoreksi kebijakan,