SURABAYA, KOMPAS.com - Warung Madura pernah menjadi fenomena nasional. Warung kelontong yang buka hingga larut malam, bahkan nyaris tanpa henti, mudah ditemukan di berbagai sudut kota, mulai dari gang perkampungan hingga jalan utama.
Namun, di balik aktivitas warung yang terlihat sederhana, terdapat persoalan yang selama bertahun-tahun dihadapi pedagang tradisional.
Pencatatan penjualan masih dilakukan secara manual, pengelolaan stok belum tertata, hingga pemilik warung harus meninggalkan tempat usahanya untuk membeli barang.
Perubahan kemudian mulai terjadi seiring masuknya teknologi digital ke usaha kecil.