Jakarta (ANTARA) - Peradaban kontemporer sedang menyaksikan retaknya sistem tunggal geopolitik. Dunia bergeser cepat menuju tatanan multipolar, di mana persaingan hegemonik antara Amerika Serikat dan China tidak lagi menjadi satu-satunya kompas determinan.
Di luar kedua raksasa tersebut, kekuatan regional seperti India, Rusia, hingga artikulasi politik kelompok Global South melalui perluasan aliansi BRICS mengonfirmasi bangkitnya otonomi strategis di berbagai penjuru bumi.
Dalam lanskap yang terfragmentasi ini, negara-negara menengah bertindak realistis. Indonesia, misalnya, menerapkan kalkulasi multi-alignment untuk menjaga kedaulatannya di tengah ketidakpastian