Sebentar lagi Muktamar NU akan memilih Ketua Umum PBNU yang baru. Di tengah riuh perbincangan tentang siapa yang akan terpilih, saya justru ingin menitipkan dua suara kepadanya. Suara dari dua tanah yang jauh dari arena muktamar: Papua dan Gaza. Keduanya belakangan terus mengganggu pikiran saya. Menariknya, kegelisahan itu justru semakin kuat ketika saya tinggal jauh dari Indonesia, di Australia.
Di sini saya bertemu orang-orang Papua yang secara terbuka menyuarakan kemerdekaan. Sebagai orang Indonesia, tentu saya tumbuh dengan narasi yang berbeda