DUA puluh satu tahun setelah Nurcholish Madjid alias Cak Nur berpulang, Indonesia masih tidak kekurangan orang yang mengenang namanya.
Yang semakin langka justru sesuatu yang lebih penting dari itu, yakni keberanian menggunakan akal sehat untuk menguji kekuasaan, keyakinan, bahkan menguji kelompok sendiri.
Pertanyaan ini terasa relevan pada Haul ke-21 Nurcholish Madjid, 29 Agustus 2026. Dalam orasi budaya bertajuk “Meluruskan Kepemimpinan Nasional”, Prof Mahfud MD mengingatkan kembali satu perkara yang sering dilupakan ketika kekuasaan telah berada di tangan satu kekuatan besar,