Nama Muhammad Nashiruddin Al-Albani kembali menjadi bahan perdebatan. Bukan karena kitab baru, bukan pula karena temuan hadis yang mengejutkan, melainkan karena sebuah pertanyaan yang sejak lama sensitif di kalangan pengkaji hadis: seberapa layak Al-Albani disebut sebagai seorang muhaddits?
Perdebatan itu kembali mengemuka setelah dalam salah satu kajiannya, menyampaikan pandangan bahwa Al-Albani tidak sampai pada derajat pakar hadis (muhaddits). Ia lebih tepat disebut sebagai peneliti hadis (bāhits).
Pernyataan itu kemudian bergaung di media sosial. Nama Al-Albani kembali dibicarakan, pendapatnya dipertanyakan, dan