KOMPAS.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terhadap beras fortifikasi. Sekitar 90 persen sampel yang diperiksa ditemukan tidak sesuai ketentuan.
Temuan tersebut menjadi sorotan karena beras fortifikasi dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan beras biasa. Konsumen berpotensi membayar lebih mahal tanpa memperoleh kandungan gizi tambahan sesuai klaim produk.
"Ada ketidaksesuaian pada mayoritas merek beras fortifikasi yang diperiksa melalui uji laboratorium," kata Mentan terkonfirmasi di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Amran mengatakan pemerintah masih mendalami hasil pemeriksaan tersebut.