Liputan6.com, Beograd - Pemimpin Serbia Aleksandar Vucic mengakui kekalahan dalam pemilu parlemen pada Minggu (25/10/2026), setelah partainya menghadapi gerakan oposisi yang didukung mahasiswa.
Kekalahan Vucic terjadi setelah hampir dua tahun Serbia dilanda gelombang demo mahasiswa. Gerakan protes itu bermula dari tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Kota Novi Sad pada 2024 yang menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan publik terhadap dugaan korupsi pemerintah.
Vucic, yang sebelumnya mendapat dukungan Presiden Rusia Vladimir Putin, selama ini memegang kendali politik yang nyaris