Pada 28 Oktober 2026, genap 98 tahun para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara mengikrarkan Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Setiap tahun kita merayakannya dengan upacara, pidato, dan unggahan media sosial berlatar merah putih.
Namun peringatan yang hanya berhenti pada seremoni berisiko mengosongkan makna. Ikrar 1928 lahir dari kegelisahan terhadap ketidakadilan yang nyata. Maka, “sudahkah ikrak kita bahwa satu Tanah Air, bangsa, dan bahasa itu sudah menyejahterakan?”
Bersatu dalam Bahasa, Terbelah dalam Kesempatan Ekonomi
Para pemuda 1928 bermimpi