Kesalehan sering kali dipahami sebagai perkara antara seorang hamba dan Tuhannya. Ia diukur dari panjangnya sujud, lamanya zikir, khusyuknya doa, serta ketertiban dalam menjalankan ibadah. Seolah-olah, ketika seluruh kewajiban ritual telah ditunaikan, selesai pula tanggung jawab keberagamaan seseorang.
Padahal, kesalehan tidak seharusnya membuat manusia hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Lebih dari itu, kesalehan semestinya menjadi cahaya yang menerangi kehidupan orang lain, energi yang menggerakkan perubahan, dan kekuatan moral untuk membebaskan masyarakat dari belenggu ketidakadilan.
Sujud memang merupakan momen paling intim