Pelemahan nilai tukar rupiah hingga tembus kisaran Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan berlangsung hingga akhir 2026. Hal ini dikarenakan berbagai faktor mulai dari tingginya harga minyak dunia hingga sentimen investor asing akan pasar modal Indonesia imbas laporan MSCI.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bertahan di kisaran 18.000-18.100 hingga akhir tahun. Namun ia menilai sulit bagi rupiah untuk bergerak di luar zona itu, semisal menguat ke level Rp 17.000-an/dolar