Kembali
Malam itu pandangannya tersita bulan purnama yang kelihatannya sedang mengendap-endap—memamerkan pancaran keindahan—dari balik awan. Dan, seketika benaknya mengajaknya dolan ke masa silam. Masa ketika kepolosan, sebagai seorang bo...
Malam itu pandangannya tersita bulan purnama yang kelihatannya sedang mengendap-endap—memamerkan pancaran keindahan—dari balik awan. Dan, seketika benaknya mengajaknya dolan ke masa silam. Masa ketika kepolosan, sebagai seorang bocah, menciptakan momen-momen amat membahagiakan; masa ketika hikayat para nabi kerap singgah dalam imajinya yang diceritakan oleh guru ngaji di mushala kampungnya. Selepas itu, biasanya ia dan teman-teman sepermainannya jonjangan di pelataran rumah mereka. Dan, apabila malam terang bulan, mereka pun bersama-sama menembangkan keindahannya sebagai sebentuk pujian kepada Pencipta alam raya.
Entah mengapa, seiring bertambahnya usia, ia jarang merasakan kesenangan yang lepas (landas?) seperti itu. Terutama saat ia mulai menapaki usia dewasa. Sebuah