Generasi Tanpa Kemapanan
ADA kecenderungan banyak pihak yang menggambarkan Generasi Z (Gen-Z) melalui secara stereotip. Misalnya mereka dianggap malas bekerja, tidak tahan tekanan, terlalu digital, mudah cemas, konsumtif, individualis, atau sebaliknya progresif, sadar lingkungan, dan melek teknologi. Stereotip semacam ini tentu sangat lemah secara sosiologis. Karena Gen-Z harus dit...
ADA kecenderungan banyak pihak yang menggambarkan Generasi Z (Gen-Z) melalui secara stereotip.
Misalnya mereka dianggap malas bekerja, tidak tahan tekanan, terlalu digital, mudah cemas, konsumtif, individualis, atau sebaliknya progresif, sadar lingkungan, dan melek teknologi.
Stereotip semacam ini tentu sangat lemah secara sosiologis. Karena Gen-Z harus ditempatkan pada persoalan level kepribadian generasi, bukan pada level struktur yang membentuknya.
Bahkan, kalau kita membaca data yang lebih mutakhir, justru menunjukkan gambaran yang jauh lebih paradoksal.
Survei Jakpat terhadap 1.158 Gen-Z Indonesia usia 17–28 tahun pada akhir 2025 menunjukkan 71 persen menempatkan gaji atau kompensasi sebagai pertimbangan utama pekerjaan, tetapi sekaligus 57 persen mengutamakan