Pagi itu saya mengawali hari dengan “ngantor” di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Malang. Dalam suasana akhir pekan, para santri banyak menghabiskan kegiatan di luar kelas. Ada yang bermain bulu tangkis, mini soccer, bela diri, atau menghabiskan waktu dengan saling mengecek hafalan Al-Qur’an bersama sesama santri.
Di tengah suasana itu, seorang santri tiba-tiba menyapa saya dari balik sebuah pintu.
“Assalamu’alaikum. Ustaz sedang sibuk, ya?” tanyanya.
“Tidak”, jawab saya.
Hari itu saya memang hanya menunggu tamu yang belum datang, sekaligus mengawasi aktivitas dan piket di pondok. Saya berjaga-jaga jika ada hal-hal yang memerlukan penanganan, sambil membaca buku atau menulis.
Tetapi